DONGENG
Waktu tak ubahnya seperti teroris! Ia akan menebar teror pada siapa saja yang dikehendaki dengan bomnya, dengan pistolnya atau mungkin senapan laras panjangnya. Betapa tak nyaman hidup dalam bayang-bayang teroris.
Ungkapan-ungkapan diatas tak terlalu melebih-lebihkan perkara, agaknya. Diperingatkan, dalam kitab suci Al Qur’an bahwasanya manusia berada dalam kerugian besar. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran, (QS: Al Ashr, 1-3).
Itu sebabnya, tiap bulir-bulir waktu meniscayakan bersenyawa dengan laku yang terpuji. Ia harus dihargai, jika tidak akan menebas lehermu (dalam filosofi Arab). Karena As sa’adah kassaif yang mirip secara prinsip dengan waktu itu teroris, uang dan lain sebagainya.
Waktu itu berjalan bukan berputar, sebab waktu takkan pernah kembali meski satu detik saja. Perjalanan waktu tersebut melahirkan etape kehidupan, yang sering kita namakan dengan sejarah, babad atau dongeng.
Seperti zaman, anak manusia pun memiliki dongeng masing-masing. Dongeng yang telah kita tuliskan di periode silam ialah catatan panjang sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tak bisa dihapus. Toh, itu pun akan memejal bersama waktu kekinian dan yang akan datang. Begitu seterusnya.Derap langkah yang kita pijakkan terkadang berkubang dalam lumpur, di jalanan landai, naik hingga menuruni bukit. Memang semua tak bisa datar-datar saja. Kadang pahit kadang manis. Kadang hitam kadang putih. Kadang diatas kadang juga dibawah. Begitu juga kata orang mengenai harmoni kehidupan yang mengalun layaknya tembang. Yang berwarna-warni bagai kain perca.
Tak seperti ceritera dari negeri Karasuta. Yang mana kalau minta apa saja datang dengan sendirinya tanpa melakukan ‘ritual’ apapun. Minta ayam bakar, tiba-tiba terbang dan datang menghampiri. Ingin segelas susu hangat seketika itu tersaji.
Di negeri itu tak ada panas tak juga ada hujan. Angin yang berhembus sepoi-sepoi. Sungguh enak, hidup di negeri itu, tak ada beban. Namun rasanya hambar. Penduduk negeri itu pun ingin kehidupan yang normal dan dinamis.
Jika dikatakan hidup mesti berjuang, itu memang benar adanya. Tanpa semangat juang yang bergegap-gempita kita tak jauh dari bangkai yang berjalan. Selanjutnya, “jadikan hidup penuh arti atau tidak sama sekali”, Wassalam.
(A. Rochim) chim_pen@yahoo.com

No comments:
Post a Comment